Hidden Figures – Ketika Paman Sam Bicara Soal Kesetaraan Ras

Sudah menjadi pemahaman umum bahwa negeri Paman Sam masih kesulitan mengadopsi kesetaraan ras hingga detik ini sekalipun. Pandangan ini tidak runtuh dan tetap tegak berdiri meski Barack Obama yang berkulit hitam berhasil menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat selama 2 (dua) periode berturut-turut.  Memang, Amerika Serikat memerlukan upaya lebih agar masyarakat dunia percaya bahwa ia adalah negara yang adil, toleran dan tidak diskriminatif terhadap mereka yang bukan kulit putih. Berbagai upaya dilakukan AS agar kepentingan yang satu ini berhasil, salah satunya adalah melalui film layar lebar sebagaimana Hidden Figures, yang dirilis akhir 2016 lalu.

Tak bisa dipungkiri bahwa dibutuhkan keberanian untuk menjadi orang pertama, terutama ketika seseorang berada dalam suatu komunitas yang menderita akibat diskriminasi rasial. Diabaikan, dicemooh, dikesampingkan merupakan hal yang menyakitkan dan merupakan bentuk penyiksaan psikologis tersendiri bagi sang korban. Hanya mereka yang memiliki pengalaman diperlakukan serupa sajalah yang dapat menyelami dan merasakan pentingnya diutamakan isu-isu non-primordial, karakter personal dan kompetensi maupun profesionalitas seseorang di atas segalanya. Yang penting lagi adalah dibutuhkan sosok manusia yang akalnya sehat dengan kepribadian kuat yang berani mempromosikan kesetaraan agar tercapai kebaikan bersama.

Paragraf di atas merupakan nilai yang dapat diambil dari film berjudul Hidden Figures dengan Kevin Costner sebagai salah satu aktor utama. Film yang berdasarkan kisah nyata ini menceritakan peran Katherine Johnson selama program luar angkasa pertama NASA. Di antara semua wanita keturunan Afrika yang ada di institusi itu, Katherine merupakan satu-satunya yang bertanggung jawab atas perhitungan lintasan terbang untuk Proyek Merkuri dan misi-misi lainnya. Dengan menggunakan tahun 1961 sebagai plot-waktu, Hidden Figures juga menceritakan sejumlah wanita lain yang notabene merupakan teman baik Katherine, yaitu Dorothy Vaughan dan Mary Jackson. Nantinya, sejarah Amerika Serikat mencatat Mary Jackson sebagai insinyur penerbangan wanita keturunan Afrika pertama di NASA dan seantero Amerika Serikat. Adapun Dorothy Vaughan dikenal sebagai penyelia wanita keturunan Afrika pertama di NASA, sekaligus satu-satunya pakar FORTRAN terbaik kala itu.

Kisah Pembuka

Film ini dimulai oleh adegan dimana seorang polisi pria kulit putih mengantar rombongan Katherine, Dorothy dan Mary ke kantor mereka di NASA. Namun, situasi tersebut berubah ketika ketiga wanita kulit hitam tersebut berupaya menceburkan diri lebih dalam ke persoalan profesional. Dorothy – yang dibintangi oleh Octavia Spencer – misalnya, menginginkan promosi jabatan. Tapi, Vivian Mitchell – yang diperankan oleh Kirsten Dunst – yang merupakan atasannya (dan kebetulan baik hati) mengatakan bahwa tidak ada posisi bagi mereka yang berkulit hitam di struktur manajemen yang lebih tinggi. Di saat yang sama, Mary Jackson (diperankan Janelle Monae), harus berperang melawan diskriminasi rasial yang menghambatnya untuk mendapat pelatihan teknik di tengah institusi yang didominasi pria itu. Adapun Katherine (diperankan Taraji P. Henson) menjadi satu-satunya wanita kulit hitam di Gugus Tugas Luar Angkasa yang dipimpin oleh Al Harrison (diperankan Kevin Costner). Dari ketiga wanita tersebut, Katherine termasuk yang paling beruntung karena memiliki bos seperti Al meski setiap hari ia harus dipelototi oleh pria Amerika kulit putih hanya karena ia ingin membuat kopi dari termos yang sama.

Konflik dan Resolusi

Katherine nasibnya cukup baik karena memiliki kinerja bagus. Ia juga cukup sabar menjalani perilaku tidak toleran rekan-rekan kerjanya di unit tersebut. Permasalahan baru muncul ketika Al Harrison marah besar padanya karena tidak ada di meja kerjanya selama hampir satu jam penuh. Katherine, yang merupakan tokoh sentral dalam film ini, sontak melawan Al dengan mengatakan bahwa ia tidak menginginkan absen selama itu kecuali di gedung tersebut tersedia toilet untuk wanita kulit hitam juga. Jika tidak, maka Katherine harus lari ke gedung sebelah hanya untuk memenuhi hajatnya.

Tak disangka-sangka, Al merespon positif keinginan Katherine dan langsung pergi ke toilet khusus orang kulit putih dan menghancurkan penanda rasial yang ada di sana. Sembari merusak penanda tersebut, Al berkata bahwa di NASA semua orang kencing dengan warna yang sama. Itu merupakan awal mula nasib Katherine dan kawan-kawannya berubah; terlebih setelah Al terpukau oleh kecerdasan Katherine dalam memecahkan masalah seputar lintasan untuk pendaratan pesawat luar angkasa yang dikendarai oleh John Glenn.

Kelebihan Film ini

Hidden Figures sepenuhnya drama dan penuh dialog. Konflik yang ada pun verbal sifatnya sehingga penonton harus konsentrasi penuh untuk memahami jalan cerita. Meski demikian, film ini tidak mengandung risiko kebosanan karena alur cerita yang tepat dan penokohan yang kuat.

Theodore Melfi dapat dikatakan sukses menyutradarai film ini. Jika diperhatikan dengan seksama, untuk ukuran film drama, Hidden Figures memiliki komposisi seimbang karena memasukkan unsur emosi yang didasari oleh kemanusiaan dan juga akal sehat yang terpicu oleh profesionalitas di dunia kerja serta kompetensi yang dimiliki seseorang. Al, misalnya, tidak dapat menolak keberadaan Katherine dalam rapat karena memang hanya ia yang sanggup meyakinkan NASA akan lintasan pesawat untuk pendaratan yang aman meski ia seorang wanita kulit hitam.

Pesan dan Kesan

Hidden Figures penuh inspirasi, terutama bagi mereka yang ingin ‘naik kelas’ secara sosial dengan cara yang fair dan penuh pertimbangan matang alih-alih aksi penuh emosional murahan. Nantinya, tidak hanya Katherine yang mendapat pengakuan, tapi juga Dorothy dan Mary. Ini yang membuat Hidden Figures semakin menarik.

Yang tak kalah menarik adalah keberadaan Al Harrison. Sebagai seorang atasan ia tak bersikap diskriminatif sekalipun terhadap Katherine. Apa yang ia permasalahkan hanyalah kinerja bawahannya. Tidak lebih dari itu. Cukup sulit menemukan atasan yang memiliki akal sehat seperti Al. Ia berani mempertahankan Katherine di tengah badai isu rasial dan perilaku diskriminatif terhadap mereka yang berkulit hitam.

Film ini sangat menarik untuk ditonton oleh semua kalangan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.