Lady Bird: Lika-liku Masa Remaja yang Membuka Mata

Bila saat ini kita harus berbicara mengenai masa remaja, apa yang paling pertama muncul dalam pikiran? Saat-saat yang menyenangkan? Pengalaman bersama dengan teman? Atau malah, sederet kenakalan hingga betapa keras kepalanya kita di masa remaja dulu? Saat mengucapkan dan mengungkapkan rasa maaf bukan sebuah hal yang sepenuhnya mudah. Bukan begitu? Perasaan dan lika-liku di masa remaja inilah yang dihadirkan oleh sutradara Greta Gerwig dalam film Lady Bird.

Film dengan genre drama komedi ini mengangkat betapa masa muda dan remaja bisa menjadi waktu yang paling menyenangkan. Sekaligus membimbangkan.

Informasi Film

Lady Bird pertama kali dirilis pada 1 September 2017 di Telluride Film Festival sebelum akhirnya ditayangkan secara luas di Amerika Serikat dan seluruh dunia pada 3 November. Film ini sendiri sudah mendapatkan keuntungan lebih dari 50 juta USD dengan biaya produksi hanya 10 juta USD. Tak terlalu buruk bukan?

Lady Bird Award

Selain itu, Lady Bird juga menjadi nominasi untuk sederet penghargaan, seperti di British Academy Film Awards. Lewat film ini sutradara Greta Gerwig bersama dengan pemain lain Saoirse Ronan, Laurie Metcalf, dan Tracy Letts mendapatkan banyak pujian. Tak salah lagi memang karena Lady Bird menjadi salah satu film coming of age paling menarik yang dirilis sepanjang tahun 2017 kemarin.

Mulai dari jalan cerita hingga akting para pemeran di film ini memperlihatkan kematangan tersendiri. Membuat Lady Bird bukan hanya layak ditonton oleh para penonton remaja. Namun untuk seluruh usia.

Jalan Cerita

Untuk sebuah film dengan genre komedi drama dan mengagkat tema coming of age, jalan cerita memegang peranan penting. Untungnya, Lady Birds bisa dikatakan melakukan hal yang baik dengan jalan cerita mereka. Bahkan tak berlebihan bila mengatakan salah satu keunggulan dari film ini memang terletak dari jalan ceritanya.

Alur kisah Lady Bird dibuat tidak membingungkan. Mengisahkan dengan jelas perjalanan Christine “Lady Bird” McPherson di masa remaja yang penuh lika liku. Mulai dari bagaimana pertentangan dengan sang ibu, hubungan dengan ayah yang membingungkan, konflik asmara antara cinta pertama dengan seksualitas. Sampai dengan impian dan harapan untuk menjadi sosok yang lebih baik yang mendapatkan hal lebih besar. Bukan satu hal yang aneh lagi untuk terjadi di sekitar kita atau malah mungkin pada kita, bukan?

Lady Bird

Di awal film, kita akan langsung diperkenalkan pada sosok pemeran utama, Christine McPherson. McPherson lebih memilih dipanggil dengan nama Lady Bird dari pada nama asli pemberian orang tuanya. Alasannya? Sederhana saja. Nama Lady Bird terdengar lebih keren, menarik, dan tidak ketinggalan jaman seperti halnya nama Christine McPherson. Begitulah, ia pun menjadi sosok Lady Bird di sekolah hingga di rumah.

Seperti halnya film coming of age lain, Lady Bird memiliki hubungan yang kurang harmonis dengan sang ibu. Marion, ibu tunggal yang bekerja (terlalu) keras untuk keluarga dan putri tercintanya memiliki pandangan berbeda dengan Lady Bird. Pola pikir Marion yang dianggap kuno, dirasa tidak sejalan dengan impian serta harapan yang dipunyai oleh sang anak. Hingga akhirnya, keduanya pun sering kali berseteru dengan banyak alasan.

Lady Bird

Lady Bird digambarkan dalam film sebagai sosok yang ambisius. Sosok yang menginginkan banyak hal dan tidak terlalu menyukai posisi dirinya saat ini. Ini dengan mudah terlihat dari bagaimana ia memilih menggunakan nama “Lady Bird” dari pada nama yang diberikan sejak ia lahir. Selain itu, Lady Bird juga menyebut Sacramento sebagai “midwest” dari California.

Satu hal yang menunjukan bagaimana ambisiusnya Lady Bird, ketika sang ibu menginginkan dirinya masuk ke kampus yang biasa-biasa saja. Mengingat belum tentu mereka memiliki biaya besar untuk masuk ke universitas sekelas Ivy Club. Namun permintaan tersebut disisihkan oleh Lady Bird. Ia justru nyaris seperti terobsesi dengan keinginan masuk ke universitas bergengsi. Meskipun di saat yang sama, track record pendidikannya sendiri kurang begitu baik.

Sosoknya yang nampak kurang bisa menerima diri sendiri juga terlihat ketika ia “memaksakan” diri berteman dengan seorang yang lebih keren. Hingga ia berbohong mengenai tempat tinggalnya.

Adegan yang Bisa Dirasakan Semua

Lady Bird

Seperti yang disebutkan di atas, menonton film ini mau tak mau merasa mengikuti perjalanan diri sendiri, atau seseorang yang kita kenal. Mulai bagaimana kagok dan berbahayanya percintaan remaja yang begitu bebas. Hingga persahabatan yang menjauh dengan sendirinya. Semua itu pernah dialami dan dirasakan oleh Lady Bird di film berdurasi lebih dari satu jam ini.

Akhir cerita yang tidak terlalu wah dengan banyak kemungkinan lain yang bisa dan mungkin terjadi juga menjadi keunggulan tersendiri. Dimana penonton, sekali lagi dibuat begitu dekat dengan karakter, permasalahan, hingga akhir dari kisah di film ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.