Shape of Water: Karya Terbaik Dari Sutradara Kenamaan Guillermo Del Toro

Bila kita berbicara mengenai sutradara sekaligus produser film kenamaan Guillermo Del Toro, yang terbayang memang bukan hanya sederet film Hollywood sukses yang ia produksi. Namun juga “keanehan” serta segala yang tidak biasa yang ia masukan ke dalam film besutannya. Mulai dari fantasi kelam yang ia hadirkan lewat Pan’s Labyrinth hingga kisah cinta di film Crimson Peak. Semua memiliki unsur ketidak lazimannya sendiri. Termasuk juga, film rilisan terbaru dari sutradara ini, Shape of Water.

The Shape of Water – Guillermo Del Toro

Shape of Water dirilis pertama kali pada 1 Desember 2017 kemarin. Film dengan genre romantic fantasy drama ini ditulis oleh Guillermo Del Toro bersama dengan Vanessa Taylor. Sederet aktris dan aktor ternama dipasangkan dalam film ini. Mulai dari Sally Hawkins, Michael Shannon, Richard Jenkins, Doug Jones, Michael Stuhlbarg, hingga Octavia Spencer.

Ketika pertama kali dirilis, Shape of Water belum mendapatkan banyak perhatian. Setidaknya, tidak seriuh film mainstream lain yang mendapatkan porsi pemberitaan besar di media. Film ini justru meraih perhatian para penggiat dan penggemar film ketika masuk ke dalam nominasi penghargaan Academy Awards 2018. Tak hanya satu, Shape of Water meraih paling tidak 12 nominasi dalam ajang penghargaan bergengsi tersebut.

The Shape of Water – Prestasi

Film ini pun mendapatkan perhatian dan blow up yang lebih besar ketika sukses mengalahkan 8 pesaing lain dan memenangkan penghargaan Best Picture di Oscar 2018. Prestasi film ini pun semakin meroket naik hingga berhasil mengumpulkan 110.7 juta USD dari pemutaran di seluruh dunia.

Lalu, apakah Shape of Water benar-benar film yang layak sebagai pemenang Best Picture Oscar 2018?

Cerita

Shape of Water mengisahkan seorang gadis bisu, Elisa. Elisa bekerja sebagai tukang bersih-bersih di sebuah laboratorium rahasia dimana ia menghabiskan hari demi hari dengan cara yang sama. Sejak pada trailer sudah ditunjukan bagaimana Elisa menjalani hari yang cukup membosankan dengan kegiatan yang itu-itu saja. Ia akan bangun pagi, bersiap untuk pergi bekerja, memastikan ia tidak terlambat untuk absen, dan kemudian melakukan tugasnya di sekitar laboratorium. Tugas yang pastinya tak jauh dari bersih-bersih.

The Shape of Water – Cerita

Di sisi lain, Elisa menemukan beberapa hal menarik dari laboratorium tersebut. Terutama sejak adanya makhluk aneh, yang awalnya belum bisa ia tentukan makhluk apakah itu. Kehidupan Elisa yang semula begitu sederhana dan monoton, berubah ketika ia mulai menjalin “hubungan” dengan sang makhluk.

Tak hanya Elisa merasakan sebuah hubungan dengan makhluk setengah manusia ikan ini, ia juga mulai berkomunikasi dengannya. Tentunya, dengan keterbatasan yang mereka berdua alami. Kendala bahasa tak membuat Elisa menyadari bahwa makhluk tersebut memiliki kecerdasan, yang mungkin sama seperti manusia.

Permasalahan

Kehidupan Elisa sendiri sebelumnya tak luput dari masalah. Meskipun tentunya nampak begitu “remeh” bila dibandingkan permasalahan yang lebih besar dan kompleks yang menanti di pertengahan film.

The Shape of Water – Permasalahan

Elisa mulai merasakan perasaan tertarik dengan sang manusia ikan. Tak hanya secara perasaan yang mendalam saja. Namun juga secara seksual. Menariknya, sang manusia ikan merasakan hal yang sama. Hubungan keduanya masih terbatas dengan ruang, karena tentunya sang manusia ikan terperangkap di dalam akuarium besar di dalam laboratorium. Masalah semakin rumit ketika muncul seorang kolonel jahat yang rupanya mengambil sang manusia ikan dari sebuah sungai di Amerika Selatan.

Manusia ikan pun berusaha melarikan diri. Tentunya dibantu oleh Elisa. Hingga ia pun membawanya ke dalam apartmeen miliknya. Tepatnya di dalam bathtub.

Setting Waktu dan Tempat

The Shape of Water – Setting Waktu Tempat

Film Shape of Water mengambil setting waktu tahun 1962 di Baltimore. Tepatnya ketika terjadi US-Soviet Space Race, berlomba siapa yang lebih dulu tiba di bulan. Salah satunya, tentu tanpa ragu mengambil seorang makhluk yang tak dikenal untuk memwujudkan keinginan tersebut.

Elisa, seorang gadis bisu dibuat terperangkap di antara keadaan tersebut dengan harapan bisa menyelamatkan sang kekasih, ya tentu saja si manusia ikan.

Pengambilan Gambar dan Sinematografi

Guillermo Del Toro dikenal bukan hanya berkat film unik dengan kisah tak biasa yang disajikan. Sutradara dan produser film ini pun dikenal berkat teknik pengambilan gambar hingga sinematografi film buatannya yang nyaris selalu di atas rata-rata. Shape of Water, pun salah satunya.

The Shape of Water – Syuting

Penonton disuguhi film dengan gambar sinematografi yang cantik. Belum lagi setting lokasi, baik itu di laboratorium, di sepanjang jalan ketika Elisa pergi bekerja, hingga di dalam apartemen miliknya sendiri. Semua terlihat begitu cantik dan tidak berlebihan untuk sebuah film dengan genre fantasi.

Shape of Water bisa dikatakan sebagai film yang mempertemukan fairy tale Beauty And The Beast dan The Creature From The Black Lagoon. Kisah cinta dari dua makhluk berbeda dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Romantisme klasik sekaligus.. menantang.

Tak salah memang bila dikatakan bahwa film ini merupakan salah satu terbaik yang dirilis pada 2017 lalu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.