Gerald’s Game: Ketika Sebuah Permainan Berubah Menjadi Usaha Bertahan Hidup

Banyak film adaptasi novel Stephen King telah dihidupkan ke layar lebar. Tidak semuanya selalu berhasil, namun banyak juga yang menuai ulasan positif. Gerarld’s Game merupakan salah satu film adaptasi yang memiliki rating menengah keatas. Beberapa unsur dalam film ini berhasil menghidupkan cerita salah satu cerita horor khas Stephen King, namun ada pula hal yang film ini masih kurang sempurna. Simak ulasannya untuk tahu lebih lengkap.

INFO FILM

Gerald’s Game

Gerald’s Game adalah film horor psikologi adaptasi dari Stephen King dengan judul yang sama. Disutradarai oleh Mike Flanagan, film ini rilis pada tanggal 29 September 2017 lalu di platform Netflix. Tidak semua sutradara selalu berhasil dalam menghidupkan karya Stephen King, Mike Flanagan masih bisa dikategorikan sebagai filmmaker yang berhasil. Meski pada umumnya orang tidak berpikir bahwa Gerald’s Game adalah cerita yang fleksible untuk dibuat versi filmnya, Flanagan telah membuktikan bahwa pendapat itu salah.

ALUR CERITA

Jessie (Carla Gugino) dan suaminya Gerald (Bruce Greenwood) merencanakan sebuah liburan di rumah liburan pribadi mereka di sebuah area di balik kompleks hutan yang jauh dari keramaian. Mereka ingin memperbaiki pernikahan mereka yang ‘hambar’ dalam kesempatan liburan satu ini. Tidak hanya sekedar liburan bulan madu biasa, Gerald mengajak istrinya untuk melakukan sebuah permainan ‘nakal’ yang mengharuskan Jessie untuk diborgol di sebuah ranjang. Namun, dalam beberapa waktu kemudian hal yang tidak mereka berdua duga terjadi. Gerald terkena serangan jantung mendadak dan tak pernah tersadar kembali. Sementara Jessie masih terjebak dengan borgol ditempat tidur tanpa bisa berbuat apa-apa.

PENGEMBANGAN CERITA

Film yang berlatar di satu ruangan

Apa yang anda lakukan ketika terjebak disebuah ranjang dalam keadan terbogol? Bagi Jessie itu bukan sekedar pertanyaan, namun kenyataan yang harus ia hadapi. Gerarld’s Game merupakan film yang hampir seluru adegannya terjadi dalam satu ruangan yang sama sepanjang film. Film ini juga minim karakter. Cerita berfokus pada Jessie yang terjabak dan mau tidak mau harus menghadapi itu semua sendirian.

Dibutuhkan teknik penulisan yang tepat untuk membuat film dengan satu setting dan satu karakter agar cerita tidak membosankan sepanjang film. Karena layar film berbeda dengan lembaran kertas dalam karya literasi. Film ini memiliki premis yang cukup mengundang, namun eksekusi cerita harus bagus untuk memuaskan ekspektasi penonton. Dan Gerald’s Game berhasil memberikan ketegangan selama film yang konsisten untuk membuat para penonton tidak merasa bosan dan penasaran dengan akhir ceritanya.

KARAKTER

Jessie & Gerald’s

Karakter dalam film ini berpusat pada kisah Jessie yang melibatkan masa lalunya yang memendam sebuah rahasia yang cukup memalukan dan menganggu. Jessie digambarkan sebagai perempuan yang pada dasarnya baik dan penurut. Ia cenderung menghindari perdebatan untuk menghindari masalah. Dalam kejadian ini, hal yang ingin disampaikan adalah bagaimana ketika Jessie harus berhenti lari dalam masalah dan benar-benar untuk pertama kalinya harus mengambil tindakan untuk tetap bertahan hidup.

Selama film terjadi perdebatan batin yang pastinya lebih muda disimak dalam literasi. Dalam film ini, berhasil membawakan perdebatan batin tersebut dengan karakter tambahan dengan cara yang brilian. Anda akan melihat perdebatan batin dan pikiran Jessie dalam berbagai alternatif kepribadian yang dimiliki oleh karakter utama. Konsep tersebut berjalan dengan mulus juga karena performa akting Carla Gubino dan Bruce Greenwood yang di atas rata-rata.

Beberapa unsur cerita mengandung unsur yang memberikan rasa tidak nyaman dan beberapa adegan sadis.

AKHIR CERITA YANG KURANG SEMPURNA

Akhir cerita yang kurang sempurna

Dari awal hingga mendekati akhir cerita, film ini nampak menjanjikan sebagai karya horor psikologi yang sempurna. Namun ternyata akhir cerita tidak terlalu menutup kisah ini dengan elegan seperti bagaimana sutradara memulainya. Alur cerita tiba-tiba menjadi sangat cepat dan cukup meninggalkan banyak tanda bagi penontonnya. Terkesan seperti dikejar oleh durasi yang terbatas. Fokus cerita tiba-tiba berubah, bagian akhir ini seakan tidak cocok dan merupakan bagian dari film lain yang tidak ada kaitannya. Secara tiba-tiba juga film ini menggunakan narasi voice over yang tidak digunakan pada bagian awal film. Tidak hanya ceritanya yang seketika tidak nyambung, konsep dan teknik film pun ikut berubah.

Overall, Gerald’s Game masih dikategorikan sebagai film horor yang memberikan pengalaman baru dalam menonton film dan patut untuk ditonton. Diluar akhir cerita yang kurang sempurna, sebagaian besar film tetap berhasil dieksekusi dengan ide pengembangan cerirta yang tepat dan akting para pemainnya yang dia atas rata-rata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.