Review Film Ambu – Drama Keluarga yang “Katanya” Bisa Bikin Penonton Nangis?

Review Film Ambu – Ok, sebelum membahas tentang review film, sebelumnya kalian tahu ambu itu apa? Nah, ambu adalah julukan atau panggilan ibu yang diberlaku di suku Sunda.

So, sudah kebayang dong kira-kira ambu ini melibatkan apa? Ya, tepat sekali. Suku Sunda.

Eits, tapi bukan Sunda yang ada di Jawa Barat, loh. Sunda ini beda. Sunda yang benar-benar menjaga kelestarian budaya dan adatnya. Sunda yang mungkin kalian juga tahu tentang keindahan alamnya. Dan suku tersebut adalah, Suku Baduy.

Benar, film ini ber-setting di Baduy, tepatnya Baduy luar. Wah, niat banget ya produsernya. Tentu. Semua itu untuk menunjang kualitas film.

Nah, berbicara mengenai kualitas, kira-kira bagaimana dan seperti apa ya jalan cerita dan hal menarik di film ini? Untuk menjawabnya, yuk simak review film Ambu berikut ini.

Jalan Ceritanya Sederhana, Tapi Menggigit – Patut Diberi Pada Review Film Ambu ini

review film ambu

Film ini bercerita tentang sosok Ambu yang diperankan oleh Widiawati yang harus menelan pil pahit setelah ditinggal anaknya (yang diperankan oleh Laudya Cynthia Bella) ke Jakarta untuk menikah dengan pria pilihannya. Setelah bertahun lamanya, akhirnya sang anak dengan membawa serta anaknya, alias cucu si Ambu ini.

Hubungan Ambu dengan sang anak, khususnya setelah kepergian anaknya, bisa dibilang cukup buruk. Namun keduanya–juga bertiga dengan sang cucu–harus menerima kenyataan bahwa mereka harus memperbaiki semuanya.

Ya, dari alur cerita, sebenarnya film ini bukan satu-satunya di Indonesia. Sudah pernah ada film serupa.

Tapi yang menjadi perhatian di review film Ambu ini adalah bagaimana tiap scene dieksekuasi dengan baik. Jalan cerita yang harusnya biasa dan membosankan, justru menjadi sesuatu yang enak untuk disaksikan, malah–katanya–banyak juga penonton yang menangis selepas nonton film ini.

Seperti yang pernah saya bilang sebelumnya, baik buruknya naskah tergantung pada si pengeksekusi. Dan pada film ini, aktor dan sutradara benar-benar mengeksekusi naskah dengan baik.

Banyak kejadian yang menguras perhatian dan perasaan. Kabar baiknya, semuanya dieksekusi dengan baik. Ketidakterimaan Ambu setelah anaknya melarikan diri masih juga diperlihatkan sampai saat si anak pulang dan membawa cucu untuknya. Namun demikian, Ambu tetap saja Ambu. Ibu tetap saja ibu. Memberi kasih sayang adalah hal yang bisa Ia lakukan.

Footage yang Keren dari Baduy – Credit Point untuk Kameramen dan Sutradara

review film ambu

Stratadara dan kameran nampaknya benar-benar memaksimalkan lokasi syuting mereka di Baduy Luar Kabupaten Lebak Banten. Mereka benar-benar mengambil setiap jengkal keindahan dari sana. Kontras, hal itu pun menjadi nilai lebih pada film ini.

Selain keindahan alam, sang sutradara juga mengambil beberapa gambar yang memperlihatkan keseharian, adat istiadat serta budaya yang dimiliki oleh salah satu suku di Banten ini.

Baduy luar sendiri masih sangat asri. Banyak lokasi-lakasi indah yang ada di sana. Saya yakin, kameran dan sutradara benar-benar melakukan research di mana saja tempat-tempat yang bagus dan keren untuk dijadikan footage mereka.

Baca juga :

Akting Widiawati Benar-benar Membawa Penonton ke Dalam Cerita – Dapat Credit Poin juga di Review Film Ambu ini

review film ambu

Untuk ukuran Widiawati, kayaknya memerankan tokoh Ambu bukan perkara yang sulit. Ia yang sudah malang melintang di jagat perfilman harusnya mampu dan bisa menjalankan tokoh ini dengan sangat baik.

Dan, walah, itu benar-benar terjadi. Ia berhasil menjadi sosok kuat yang mampu membawa cerita ke dalam taraf kesedihan.

Sosok Ambu yang kuat namun penyayang benar-benar menjadi poin utama yang saya lihat dalam film ini. Tegas, keras, namun penyayang. Tiga karakter yang melebur jadi satu dalam sosok Ambu.

Beberapa scene juga berhasil dieksekusi dengan baik oleh Widiawati. Salah satu yang paling memikat adalah saat dia marah pas anaknya balik lagi ke kampung. Padahal, menurut adat, mereka yang pergi ke luar kampung dan menikah dengan orang luar, tidak boleh lagi menjadi bagian dari kampung itu. Di situ saya melihat sosok ibu yang tegas, namun ada kesan rindu yang muncul dalam dirinya.

Widiawati juga menggunakan bahasa Sunda dengan sangat fasih. Entah dia orang Sunda atau bukan, tapi yang menjadi perhatian adalah saat dia benar-benar melafalkan naskah seakan tak ada naskah. Semuanya mengalir. Keren.

Nah, itulah review film Ambu. Dari semua bagian film, hanya 3 yang menjadi perhatian saya. Sedang sisanya, ya, bagus. Cuma tak begitu memikat selain ketiga hal yang disampaikan di atas. Tapi overall film ini bagus baget.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.