Review The Lion King 2019 – Nostalgia Dengan Tampilan yang Lebih Hidup

The Lion King 2019 live action remake telah rilis dibioskop dari 17 Juli 2019 lalu. Merupakan remake dari salah satu animasi Disney Classic yang ikonik, film live action satu ini merupakan salah satu yang dinanti-nanti tahun ini. Menggandeng sutradara kawakan dan jajaran aktor dan penyayi papan atas, banyak orang berekspektasi tinggi untuk The Lion King versi terbaru ini.

Apa The Lion King 2019 dapat menandingin veris lawasnya yang sudah terbukti menjadi salah satu animasi terbaik sepanjang masa? Yuk, simak review The Lion King remake satu ini.

Sinopsis The Lion King 2019

The Lion King bercrita tentang petualangan Simba (Donald Glover), singa muda pewaris kedudukan ayahnya, Mufasa (James Earl Jones), sebagai raja di Pride Rock. Namun, paman jahat Simba yang bernama Scar (Chiwetel Ejiofor), memiliki rencana jahat untuk merebut tahta Mufasa dan memusnahkan Simba sebagai pewaris agar bisa menjadi raja Pride Rock tanpa pesaing.

Namun, Simba berhasil lolos dari rencana jahat paman Scar. Setelah beberapa waktu hidup dalam pelarian dan beranjak dewasa, akhirnya Simba kembali ke Pride Rock bersama teman-temannya, Timon (Billy Eicher) dan Pumba (Seth Rogen). Ia akan mengambil kembali tahtanya sebagai raja dan memeluk kembali jati dirinya yang telah lama ia tinggalkan.

The Lion King 2019 live action satu ini merupakan versi remake dari versi animasi keluaran Walt Disney. Pertama kali rilis pada 1994 silam, film animasi ikonik satu ini sempat merajai Box Office dengan penghasilan sebesar 968.5 juta dollar Amerika Serikat. Versi remake The Lion King disutradari oleh Jon Favreau. Bertabur bintang besar dari industri musik, Donald Glover dan Beyonce.

Efek Visual Mutakhir

Melibatkan lebih dari 180 animator dan seorang cinematografer handal, Caleb Deschanel, The Lion King live action berhasil menghidupkan lebih dari 86 spesies hewan dan lanskap Pride Rock yang menakjubkan bagai film dokumenter hewan. Sang sutradara, Jon Favreau juga sudah terkenal dengan berbagai filmnya yang kaya akan efek CGI mutakhir, mulai dari The Jungle Book live action (2016), hingga jajaran sekuel The Avengers dari Maver Studio.

Jika mau menyebutkan apa yang menjadi keunggulan dari film remake satu ini, tampilan visual dan cinematografi-nya yang menjadi primadona. Dari detail background alam seperti rerumputan, tumbuhan, hingga kericil dan bebatuan, semuanya berhasil berpadu menyajikan pemandangan ekosistem pada savana Afrika dengan tingkat realistisme yang tinggi.

Setiap hewan juga mengalami desain CGI yang amat detail dan sangat mirip dengan hewan-hewan asli. Mulai dari tampilan dasar, hingga pergerakan otot paling detil sekalipun berhasil diterapkan dalam desain karakter dalam The Lion King 2019 ini.

Terlalu Realistis, Hewan-Hewan Kurang Ekspersif

Menunjukan keunggulan CGI yang mutakhir memang memiliki dampak positif yang meningkatkan kualitas dari film satu ini. Namun, ada efek samping dari realisme tersebut, yaitu ekspresi dari masing-masing karakter. Dibandingkan dengan versi animasinya, The Lion King 1994 lebih berhasil menggambarkan ekspresi wajah dari para hewan yang diciptakan secara animasi dan memang tidak realis, namun itulah keunggulan film animasi.

Seperti hewan pada umumnya, secara realistis, mereka tidak akan terlalu menunjukan perubahan ekspresi wajah ketika sedang marah atau bahagia. Hal ini juga diterapkan dalam film live action satu ini, menghilangkan unsur ekspresi wajah dan membuat hewan-hewan tampil dengan acting yang tampak datar.

Penonton juga akan kesulitan untuk melihat perbedaan antara satu karakter dengan karakter lainnya. Misalnya Nala dewasa dengan ibu Simba, Sarabi yang keduanya tampak serupa. Begitu pula trio haina yang juga memiliki tampilan sama. Pada akhirnya, efek CGI mutakhir harus mengorbankan salah satu unsur penting dalam versi remake satu ini.

Aransemen Musik Belum Menandingi Versi Original

Salah satu daya tarik dari film The Lion King animasi adalah unsur musikal dan penampilan menyanyi yang dibawakan oleh para karakter utama. Lagu-lagu ikonik seperti “The Circle of Life”, hingga “I Just Can’t Wait to Be King” yang bernuansa ceria. Salah satu lagu yang menjadi headline dalam The Lion King 2019 adalah “Can You Feel The Love Tonight”. Di-cover ulang oleh Donald Glover dan diva pop, Beyonce, lagu cinta satu ini dibawakan dengan aransemen yang baru. Namun, sekalipun menggait penyanyi sekelas Beyonce pun, aransemen ini belum bisa mengalahkan versi lamanya.

Begitu pula lagu “Be Prepared” yang dinyanyikan oleh Scar mengalami aransemen total dengan versi yang lebih gelap dan suram. Lagu-lagu seperti “Hakuna Matata” masih dibawakan sesuai dengan versi lawasnya. Overall, unsur musikal dari film remake ini tidak terlalu menggugah seperti versi aslinya dengan musik-musik yang memiliki aransemen khas dengan musik bernuansa hutan.

Berusaha Mengulangi Sejarah

Jika kamu mengharapkan sesuatu yang berbeda atau plot twist dalam film The Lion King 2019, kamu tidak akan menemukan hal tersebut. Semua unsur dalam film remake satu ini cukup mirip dengan versi lamanya, bedanya hanya terletak pada tampilannya yang sudah ditingkatnya dengan efek CGI. Bahkan mereka tidak menghilangkan opening yang ikonik dari film animasinya.

Tampaknya sang sutradara “takut” melakukan perubahan yang signifikan mengingat banyaknya unsur ikonik dan indah pada versi originalnya. Hal ini mengapa saya selalu berpendapat bahwa film live action tidak seharusnya dibuat, apalagi jika versi originalnya saja sudah bagus.

Rating: 7/10

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.